Segala Puji
Milik Allah atas segala karunia-Nya kepada kita semua, segala kenikmatan yang
tidak akan pernah kita sanggup untuk membalasnya, bahkan pun jika seluruh ‘amal
kebajikan manusia sejak Nabi Adam hingga akhir zaman dikumpulkan, tidak akan
ada nilainya dibanding setetes nikmat yang Allah turunkan ke muka bumi. Diblog
ini saya akan menceritakan sedikit cuplikan kisah Nabi Ismail a.s, semoga
kisah-kisah beliau dapat menjadikan kita semua yang membacanya menjadi pribadi yang
lebih baik lagi. Amin.
Beliau adalah juwairiyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar bin
Al-Habib Al-Khuza’iyah Al-Mushthaliqiyah. Beliau adalah secantik-cantik wanita
yang ditawan tatkala kaum muslimin mengalahkan Bani Mushthaliq pada saat perang
Muraisi . Juwairiyah adalah sosok wanita yang mampu menjaga izzah (kemuliaan)-nya
sebagai seorang wanita terhormat. Ia adalah seorang wanita terpandang di
kaumnya yang memiliki kecerdasan akal dan kecantikan fisik. Oleh karenanya,
Juwairiyah merasa tidak pantas menjadi seorang tawanan, apalagi sampai
direndahkan menjadi seorang budak. Ia pun meyakinkan diri tidak pantas dimiliki
oleh Tsabit bin Qais yang hanya prajurit biasa. Kalaupun ada manusia yang
diberi kesempatan untuk memiliki dirinya, manusia itu bukanlah Tsabit bin Qais,
tetapi siapa yang menjadi pemimpin Tsabit dan pemimpin kaumnya (Kaum Muslim),
yaitu Rasulullah saw. Begitu mengetahui dirinya menjadi tawanan, Juwairiyah
mengajukan keinginannya untuk membebaskan diri kepada Tsabit dan Rasulullah
saw. Saat diijinkan bertemu Rasulullah, dia berkata, "Rasulullah, aku
Burrah, putri dari Al Harits. Ayahku adalah pemimpin kaumku. Sekarang aku
ditimpa kemalangan dengan menjadi tawanan perang dan jatuh ke tangan Tsabit bin
Qais. Ia memang lelaki baik, tidak pernah berlaku buruk padaku. Namun ketika
kukatakan aku ingin menebus diri, ia membebaniku dengan sembilan keping emas.
Maka kupikir lebih baik minta perlindungan padamu. Tolong, bebaskan aku!"
Rasulullah
berpikir sejenak. Iba hati Rasulullah menyaksikan Juwairiyah, seorang wanita
terhormat yang tiba-tiba berubah menjadi budak. Lalu Rasul balik bertanya,
"Maukah engkau yang lebih baik dari itu?"
Jawaban
Rasulullah kemudian membuat Juwairiyah tercengang, namun wajahnya berseri-seri.
Betapa tidak, selain Rasulullah sendiri yang akan membayar tebusan, Rasulullah
pun melamarnya. Dengan senyuman, Juwairiyah menerima pinangan Rasulullah, lalu
memeluk Islam. Juwairiyah wafat pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan
sekitar tahun 56 H, pada usianya yang keenam puluh. Dia dikuburkan di Baqi’,
bersebelahan dengan kuburan istri-istri Rasulullah yang lain. Semoga Allah rela
kepadanya dan kepada semua istri Rasulullah Saw.
Akhirnya
saya sebagai penulis hanya bermohon kepada Allah swt, semoga dijadikan bagian
dari bangunan dakwah yang kelak akan mengantarkan Islam kembali menjadi
Ustadziatul’alam, Kebenaran itu hanya datang dari Allah, maka jangan
sekali-kali kita ragu untuk mengambilnya sedang yang salah adalah datang dari
diri penulis pribadi.
silahkan baca kisah istri-istri nabi muhammad lainnya disini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar