Aisyah binti Abu Bakar
Siti Aisyahlahir pada bulan Syawal tahun ke-9 sebelum hijrah, bertepatan dengan bulan Juli
tahun 614 Masehi, yaitu akhir tahun ke-5 kenabian. Kala itu, tidak ada satu
keluarga muslim pun yang menyamai keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq dalam hal
jihad dan pengorbanannya demi penyebaran agama Islam. Rumah Abu Bakar saat itu
menjadi tempat yang penuh berkah, tempat makna tertinggi kemuliaan,
kebahagiaan, kehormatan, dan kesucian, dimana cahaya mentari Islam pertama
terpancar dengan terang. Dari perkembangan fisik, Siti Aisyah termasuk
perempuan yang sangat cepat tumbuh dan berkembang. Ketika menginjak usia
sembilan atau sepuluh tahun, ia menjadi gemuk dan penampilannya kelihatan
bagus, padahal saat masih kecil, ia sangat kurus. Dan ketika dewasa, tubuhnya
semakin besar dan penuh berisi. Aisyah adalah wanita berkulit putih dan
berparas elok dan cantik. Oleh karena itu, ia dikenal dengan julukan Humaira’
(yang pipinya kemerah-merahan). Ia juga perempuan yang manis, tubuhnya
langsing, matanya besar, rambutnya keriting, dan wajahnya cerah.
Dua tahun
setelah wafatnya Khadijah r.a datang wahyu kepada Nabi SAW untuk menikahi
Aisyah r.a. Setelah itu Nabi SAW berkata kepada Aisyah,
" Aku melihatmu dalam tidurku tiga
malam berturut-turut. Malaikat mendatangiku dengan membawa gambarmu pada
selembar sutra seraya berkata,' Ini adalah istrimu.' Ketika aku membuka
tabirnya, tampaklah wajahmu. Kemudian aku berkata kepadanya,' Jika ini benar
dari Allah SWT , niscaya akan terlaksana."
Inilah beberapa
kepribadian Aisyah RA yang patut kita contoh:
·
Pribadi yang Haus Ilmu
Selama Sembilan tahun Aisyah ra hidup dengan Rasulullah saw. Beliau dikenal
sebagai pribadi yang haus akan ilmu pengetahuan. Ketekunan dalam belajar
menghantarkan beliau sebagai perempuan yang banyak menguasai berbagai bidang
ilmu. Diantaranya adalah ilmu al-qur’an, hadist, fiqih, bahasa arab dan syair.
Keilmuan Aisyah tidak diragukan lagi karena beliau adalah orang terdekat
Rasulullah yang sering mengikuti pribadi Rasulullah. Banyak wahyu yang
turun dari Allah disaksikan langsung oleh Aisyah ra.
“Aku pernah melihat wahyu turun kepada
Rasulullah pada suatu hari yang sangat dingin sehingga beliau tidak sadarkan
diri, sementara keringat bercucuran dari dahi beliau.“ (HR. Bukhari).
Aisyah juga dikenal sebagai perempuan yang banyak menghapalkan
hadist-hadist Rasulullah. Sehingga beliau mendapat gelar Al-mukatsirin (orang
yang paling banyak meriwayatkan hadist). Ada sebanyak 2210 hadist yang
diriwayatkan oleh Aisyah ra. Diantaranya terdapat 297 hadist dalam kitab
shahihain dan sebanyak 174 hadist yang mencapai derajat muttafaq ‘alaih. Bahkan
para ahli hadist menempatkan beliau pada posisi kelima penghafal hadist setelah
Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Ibnu Abbas.
·
Pribadi yang Tegas dalam Menegakkan Hukum Allah
Aisyah juga dikenal sebagai pribadi yang tegas dalam mengambil sikap. Hal
ini terlihat dalam penegakan hukum Allah, Aisyah langsung menegur
perempuan-perempuan muslim yang melanggar hukum Allah. Suatu ketika dia
mendengar bahwa kaum wanita dari Hamash di Syam mandi di tempat pemandian umum.
Aisyah mendatangi mereka dan berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu
alaihi wassalam. bersabda, ‘Perempuan yang menanggalkan pakaiannya di rumah
selain rumah suaminya maka dia telah membuka tabir penutup antara dia dengan
Tuhannya.“ (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah). Aisyah pun pernah menyaksikan
adanya perubahan pada pakaian yang dikenakan wanita-wanita Islam setelah
Rasulullah wafat. Aisyah menentang perubahan tersebut seraya berkata, “Seandainya Rasulullah melihat apa yang
terjadi pada wanita (masa kini), niscaya beliau akan melarang mereka memasuki
masjid sebagaimana wanita Israel dilarang memasuki tempat ibadah mereka.”
Di
dalam Thabaqat Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah binti Abdirrahman menemui
Ummul-Mukminin Aisyah . Ketika itu Hafsyah mengenakan kerudung tipis. Secepat
kilat Aisyah menarik kerudung tersebut dan menggantinya dengan kerudung yang
tebal.
·
Pribadi yang Dermawan
Dalam hidupnya Aisyah ra juga dikenal sebagai pribadi yang dermawan. Dalam
sebuah kisah diceritakan bahwa Aisyah ra pernah menerima uang sebanyak 100.000
dirham. Kemudian beliau meminta para pembantunya untuk membagi-bagikan uang
tersebut kepada fakir miskin tanpa menyisakan satu dirhampun untuk beliau.
Padahal saat itu beliau sedang berpuasa. Harta duniawi tidak menyilaukan Aisyah
ra. Meskipun pada saat itu kelimpahan kekayaan berpihak kepada kaum muslimin.
Aisyah ra tetap hidup dalam kesederhanaan sebagaimana yang dicontohkan oleh
Rasulullah saw.
masih
banyak kisah, diantaranya: nabi, sahabat nasbi dan wali yang dapat kita
jadikan contoh dalam kehidupan kita, selengkapnya silahkan baca disini

Artikelnya bermanfaat buat saya, visit juga ya http://malam-lailatul-qadar.blogspot.com/
BalasHapus